Sisi Keindahan Suasana Kota Lumajang dari Dulu hingga Kini
Macem-macem Photo

Tiket Grand Hotel Loemadjang Sekitar 1947

Berikut ini adalah tiket/label dari Grand Hotel Loemadjang Sekitar 1947 yang fotonya diambil oleh seorang tentara marinir Belanda yang dinas di Lumajang. Dalam label tersebut nampak dengan gagahnya gunung Semeru juga akses jalan menuju kesana serta nampak seorang petani sedang memikul barang. Belum ada informasi yang jelas tentang keberadaan Grand Hotel Loemadjang ini.

Tari Gelipang 31 Agustus 1948



Di Lumajang Tarian Gelipang atau Glipang sangatlah dikenal oleh warganya hingga sekarang, di kabupaten sebelah yaitu Probolinggo tarian glipang ini dikenal dengan istilah tarian kiprah glipang. Sepengetahuan Admin banyak artikel yang menuliskan bahwasanya tarian ini berasal dari Probolinggo. Misalnya saja artikel di wikipedia.org yang menjelaskan bahwa Tari Glipang lahir di Desa Pendil, Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo ini sudah lama dikenal masyarakat. Tari Glipang Berasal dari kebiasan masyarakat. Kebiasaan yang sudah turun temurun tersebut akhirnya menjadi tradisi. Pak Parmo yang merupakan cucu dari pencipta Tari Glipang ini mengatakan bahwa “Glipang” bukanlah nama yang sebenarnya dari tarian tersebut. Awalnya nama tari tersebut adalah “Gholiban” berasal dari bahasa arab yang berarti kebiasaan.

Namun untuk Lumajang tidak boleh kalah karena ada bukti otentik berupa foto tarian GELIPANG pada tanggal 31 Agustus 1948 yang merupakan sebuah dokumen pembuktian bahwasanya di Lumajang mulai zaman dahulu sudah ada kesenian ini. Untuk itu kepada warga Lumajang khususnya generasi muda mari kita lestarikan warisan budaya bangsa ini

Jembatan Kali Pancing 1930

Jembatan Kali Pancing terletak di wilayah kecamatan Pasirian dan merupakan jalur penghubung transportrasi darat dari Tempeh ke Pasirian.
Jembatan Kali Pantjing 1930

 Jembatan Kali Pantjing 22-07-1947

Kesenian Ujung Lumajang 25 April 1947

Foto di atas adalah foto kesenian ujung di Lumajang pada 25 April 1947
Kesenian ujung merupakan sebuah kegiatan yang awal mulanya pada jaman Majapahit dipergunakan sebagai ritual meminta hujan. Dalam seni ujung ini ratusan warga berkumpul mengelilingi sebuah panggung berukuran 5×5 meter. ”Ayo gepuk, ojo loyo (ayo pukul, jangan lemas, Red.),” teriak seorang bapak yang mengenakan peci hitam dari bawah panggung berteriak menyemangati dua orang yang bertarung di atas panggung. Dari atas panggung tampak dua lelaki bertubuh kekar saling berhadapan.dengan tatapan tajam, keduanya siap bertarung. Setelah seorang berpakaian hitam mengangkat tangan, keduanya saling melangkahkan kaki ke depan sambil mengangkat tangan yang memegang kayu rotan. Saat melangkah ke depan, keduanya berjoget mengikuti irama musik karawitan yang mengalun. Salah seorang pemain pun memukul tepat mengenai punggung hingga mengeluarkan darah. Namun tidak terllihat rasa sakit. Kedua pemain saling tersenyum, bahkan sesekali tertawa sembari berjoget. Setelah memukul, kini pemain tadi harus bersiap menangkis pukulan lawannya. Atraksi pukul memukul dilakukan secara bergantian. Kedua orang tersebut bukanlah akan bertinju, apalagi sedang melakukan atraksi pencak silat. Namun, keduanya sedang melakukan pertunjukkan seni ujung. 

Dengan menggunakan kayu rotan, kedua lelaki tersebut saling memukul secara bergantian. Setelah terpukul ataupun memukul, kedua lelaki tersebut berjoget mengikuti irama lagu karawitan. Selain kedua ”petarung” di atas panggung juga terdpat tiga lelaki berpakaian serba hitam. Ketiga lelaki ini biasa disebut sebagai kemlandang atau juri. Salah satu dari kemlandang membawa bakul (tempat nasi, Red) yang di dalamnya berisi beras kuning. Sedangkan dua lainnya melihat apakah terjadi pelanggaran atau tidak. ”Ayo beri semangat, tepuk tangannya,” ujar kemlandang kepada para penonton agar terus menyemangati para pemain sementara keduanya berjoget setelah saling memukul. Kedua pria yang bertarung saling memukul lawannya secara bergantian. Tak jarang, dari mereka mengeluarkan darah. Namun hal tersbeut tidak mengurangi rasa bahagia atau pun menimbulkan rasa takut bagi pemainnya.(teks dari Radar Mojokerto)

image:http://www.europeana.eu
Pean ugo iso nggolek-i foto-foto liyane ning kene ning TROPENMUSEUM utowo KITLV

Selamat Jalan Cak Ajad

)
 
Support : Sing Nggawe Web iki Copyright © 2014. www.lumajang.org - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger